Ada kesalahan di dalam gadget ini

Antara Cinta dan Perbedaan Keyakinan

Sebenarnya sudah lama terpikir untuk menulis tentang hal ini, namun selalu bingung dari mana harus memulainya. Sebelumnya saya minta maaf jika sebagian pihak mungkin menganggap tulisan saya ini nyerempet SARA, tetapi saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin memandang secara global tentang hal yang sudah lazim terjadi, bahkan mungkin salah satu atau beberapa teman yang kebetulan mampir dan membaca tulisan ini sedang atau setidaknya pernah mengalaminya.

Kebetulan weekend kemarin ada seorang kawan yang bertandang ke rumah. Seorang lelaki, tak terlalu tampan menurutku, namun nampaknya memiliki suatu pesona tersendiri di mata para wanita. Dari sekian wanita yang menemani petualangan hidupnya beberapa tahun belakangan ini, baik sebagai kekasih ataukah hanya TTM, sebagian besar menganut keyakinan berbeda.

Bahkan sempat ia menjalin suatu hubungan yang serius, juga dengan wanita yang berbeda agama. Suatu saat ia mengutarakan niat tulusnya pada orangtua sang gadis untuk mempersunting sang gadis. Lalu apa jawab sang ayah? Beginilah kira-kira, “Saya suka dengan kamu, sikap kamu. Saya suka anak saya menjalin hubungan dengan pria seperti kamu. Saya sebenarnya mau anak saya menikah denganmu, tapi saya tak mau anak saya ikut keyakinan yang kamu anut. Kalau kalian masih tetap mau menikah silakan saja, tapi jangan pernah injakkan kaki lagi di rumah ini”. Suatu jawaban yang tenang, tanpa emosi, tapi sungguh menusuk perasaan. Dan akhirnya, hubungan merekapun berakhir atas nama perbedaan keyakinan. Setelah hubungannya dengan sang gadis berakhir, ia terpuruk. Ia tak lagi ingin berkomitmen dalam satu hubungan. Mungkin menurutnya suatu komitmen akan sangat menyakiti jika harus berakhir.

Dalam petualangan hidupnya, ia kembali dekat dengan salah seorang wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Hanya sebatas dekat, tapi tanpa komitmen. Dan lagi-lagi suatu cinta dalam perbedaan keyakinan. Lama sudah mereka menjalani hubungan seperti itu. Saya yakin sebenarnya ada cinta diantara mereka, apalagi dulu mereka sempat menjalin kasih. Yang saya lihat sang wanita sebenarnya mengharapkan sesuatu yang lebih dari sang pria, tapi apalah daya, sang pria sudah terlanjur malas dengan komitmen.

Lalu apa yang mereka cari dari hubungan itu? Sempat sang wanita bertanya, “Jika tak ada masa depan dalam sebuah hubungan, apakah tak juga ada harapan?”. Apakah benar suatu hubungan yang dibangun diatas pilar perbedaan keyakinan adalah sebuah hubungan yang tak memiliki prospek masa depan?

Seperti yang kita tahu, tujuan dari hubungan sepasang kekasih adalah hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Mengenai pernikahan beda agama, saya ingin memandang secara global, tidak dari sudut pandang suatu agama saja. Menurut suatu artikel yang pernah saya baca, ada empat cara yang populer ditempuh pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dilangsungkan, yaitu meminta penetapan pengadilan, perkawinan dilakukan menurut agama masing-masing, penundukan sementara pada salah satu hukum agama dan menikah di luar negeri.

Jadi sebenarnya cinta dalam perbedaan keyakinan memiliki prospek. Banyak cara yang bisa ditempuh. Banyak pasangan beda agama yang menikah dan sampai sekarang rumah tangga mereka baik-baik saja. Ada yang memilih untuk tetap pada agama dan keyakinan masing-masing, ada pula yang memilih untuk salah satu berpindah ke keyakinan pasangannya. Toh negara juga sebenarnya tak secara tegas melarang pernikahan beda agama. Larangan tersebut tidak datang dari negara melainkan dari agama. Sepanjang ada pengesahan agama, catatan sipil mencatat sebuah perkawinan akan mencatat sebuah pernikahan. Sepanjang tidak ada pengesahan agama, tidak mungkin catatan sipil mencatat sebuah perkawinan.

Oleh karenanya cara yang paling populer dilakukan adalah menikah menurut agama masing-masing dan penundukan sementara pada satu agama. Pastinya tak ada (atau mungkin sangat jarang) seseorang mau berpindah dari agama yang telah sekian lama dianutnya . Jika tak ada yang mau mengalah, maka jalan satu-satunya adalah menikah menurut agama masing-masing, menurut agama mempelai pria terlebih dulu, baru kemudian menurut agama mempelai wanita. Atau kalau tak ingin repot menikah 2 kali, jalan yang ditempuh adalah penundukan sementara pada satu agama. Mengapa sementara? Karena biasanya setelah menikah dengan tatacara satu agama, mereka kembali ke keyakinan semula. Yang penting sudah mendapat pengakuan negara, habis perkara.

Menurut saya tak sesederhana itu. Dari awal caranya saja, bukankan sadar atau tidak cara seperti itu adalah salah satu bentuk permainan terhadap agama. Sementara saja menganut ajaran suatu agama hanya demi pengakuan negara, lalu kembali ke keyakinan asal. Bukankah terlihat seperti kurang menghargai kesucian suatu agama, baik yang dianut maupun agama pasangannya. Lalu bagaimana nanti dalam kehidupan selanjutnya, dimana dituntut harus selalu bertoleransi menghargai keyakinan yang dianut pasangannya, setiap detik seumur hidupnya. Belum lagi tentang anak, yang dibingungkan dengan perbedaan diantara kedua orangtuanya, yang membuat anak juga bingung mengenai keyakinan yang harus dianutnya.

Kalau akhirnya salah satu ada yang mengalah, lalu mengikuti keyakinan pasangan, biasanya mengakibatkan adanya kerenggangan hubungan dengan keluarga. Seperti pada cerita saya diatas, saat teman saya melamar gadisnya, dimana sang ayah menyiratkan akan adanya pemutusan hubungan keluarga jika anaknya ikut keyakinan sang pria. Belum lagi menyangkut hubungan dengan Tuhannya. Suatu dilema memang, benar juga di satu sisi kalau dikatakan “Namanya juga sudah jodoh, jadi memang itu (baca : pindah agama) jalan yang harus ditempuh, kan jodoh Tuhan yang atur”. Betul memang, jodoh Tuhan yang atur. Tetapi apakah harus dengan mengorbankan agama dan kepercayaan yang selama ini dianut? Apakah dengan meninggalkan ajaran Tuhan yang selama ini amat dicintai, yang dipercayai telah memberikan jodohnya?

Jadi menurut saya, hubungan berbeda agama bukannya tidak memiliki prospek, hanya terlalu rumit. Mengenai prospek, semua kemungkinan pasti ada, tinggal bagaimana cara yang ditempuh untuk mengupayakannya. Tetapi, terlalu besar pengorbanan yang harus diberikan demi cinta kepada manusia jika harus merelakan hilangnya cinta kepada Tuhan. Jadi lebih baik dari awal hubungan itu dihindari saja. Selagi belum terlanjur, apalagi kata orang cinta itu buta. Wihhh, susah deh. Jadi lebih baik semakin menambah cinta pada Tuhan, jadi takkan mudah kehilangan cinta pada Nya. Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar